Goresan Kecil 2016

“Ia ingin berlari menghapus semua jejak
Namun perjalanan ini membuatnya mengerti
Meski kadang terasa sesak
Kini ia memilih berdamai dan menikmati” -nn
Ahamdulillaah 'ala kulli hal. dengan segala rahmat dan limpahan karuniaNya kepada ku, Aku masih (berusaha) bisa berdiri tegak di sini. Waktu memang menjadi salah satu hal yang sangat mahal harganya jika diniagakan. Tanpa aku sadari pun, ternyata sudah hampir satu semester aku tidak menulis apapun di blog alayku ini. Too much strories that I should share. Banyak kejutan dari Allah untuk ku di tahun ini. Tawa, canda, bahagia, air mata, lengkap sudah mengisi hari-hariku. Hal-hal itu masih terekam jelas di ingatanku, sangat jelas. Akan kurangkai cerita-cerita itu, untuk ku jadikan pembelajaran agar yang memang tidak sesuai tidak akan pernah lagi terulang dan yang berguna dapat ditingkatkan.

Dari sekian banyak cerita itu, beberapa dapat aku simpulkan dengan jelas. Pelajaran-pelajaran yang aku dapatkan selama tahun ini, yang akan menguatkanku, yang akan aku lihat kembali saat nantinya aku akan mengalami hal yang sama, yang akan menjadi rambu-rambu ku untuk melakukan apapun.

Allah punya caranya sendiri untuk menguatkan hambaNya.

Dan cara Allah menguatkan hambanya memang sangat indah. Bukan dengan cara tidak diberi masalah, melainkan diberi kekuatan untuk menghadapi masalah-masalah yang datang. Hal-hal tersebut lah yang dapat menempa diri dan hati menjadi sekuat baja, Tidak. Mungkin berlian lebih tepat. wkwk.

Beragam masalah yang aku temui di tahun ini, dari mulai akademis, organisasi, perdebatan antara pikiran dan hati tentang banyak hal dan yang paling tidak ketinggalan setiap tahun adalah masalah, hati. Masalahku memang hanya seputar itu, karena aku pun berkutatnya dengan hal-hal itu. Tapi saat iman sedang tidak stabil, satu masalah dari beberapa sumber di masalah itu dapat merembet menjadi banyak masalah yang sangat complicated.

Pernah suatu saat di tahun ini, aku berada di posisi dimana hati dan pikiran ku tidak kunjung sinkron, ngga nyambung-nyambung. Saat hati ku maunya A dan yang teralisasikan B, maunya B terealisasikan C, lingkungan sekitar pada saat itu pun sangat amat membuatku ingin menyerah, menghilang dan mundur perlahan hingga akhirnya mata ku berkaca-kaca dan aku tidak bisa lagi menahan semuanya sendiri. Aku masih ingat saat itu, sangat terekam jelas diingatan ku. Yang paling sedih, hal tersebut tidak hanya terjadi sekali di tahun ini, ya berkali-kali. Sebodoh itu kah aku hingga hal yang membuatku seperti itu terjadi beberapa kali di tahun ini?

Mungkin jika di rumah ada ibu, aku bisa cerita dengan bebas. Tapi ini jauh, berkilo-kilo meter dari rumah. Sama siapa aku bisa menumpahkan semuanya kalau lagi kaya gini?

Tapi Allah sayang, sangat sayang dengan hambaNya yang kurang bersyukur ini. Setiap aku sudah tidak kuat menahan itu semua, Allah kirimkan aku perantara-perantaraNya. Ada mereka yang sedia memberikan pundak, mendengarkan ocehanku, membiarkan ku mengeluarkan semua yang membuat sesak, tanpa mencegahku untuk meluapkan semua, yang akhirnya mereka akan menularkan semangat mereka dan tak jarang itu yang menguatkan ku kembali, bahwa aku tidak sendiri. Kadang memang saat seperti itu, bukan solusi yang ingin didengar, tapi hanya butuh pendengar untuk mengeluarkan segala hal yang membuat hati menjadi sangat sesak.

Allah lebih tahu, mana yang terbaik untuk hambaNya. 

Sebaik-baik skenario yang dibuat oleh manusia, masih ada skenario terbaik yang telah dituliskan untuk kita bahkan saat kita baru saja dilahirkan ke dunia. Karena manusia hanya bisa merencanakan dan Allah lah yang menentukan. Tugas kita sebagai manusia hanya merencanakan segalanya dengan matang dan jika belum terealisasi, mungkin dan pasti Allah mempunyai rencana lain yang akan lebih membuat kita mendekatkan diri kepadaNya. 

Tidak dapat dipungkiri juga, banyak rencana yang dengan beberapa alasan belum dapat terealisasi pada tahun ini. Memang, kecewa pasti ada. Sedih? jangan ditanya. Namun itu In Syaa Allah hanya efek sementara setelah mengetahui bahwa rencana-rencana yang telah ku rangkai sedemikian rupa belum dapat terlaksana. Karena seberapapun kita berusaha, seberapapun kita mencoba, sebaik apapun suatu rencana, jika Allah belum mengizinkan, bahkan satu menit sebelum terlaksanapun bisa saja rencana yang sudah akan kita lakukan seketika gagal terlaksana. Allah mempunyai banyak cara untuk menjaga hambaNya, kan?

Aku percaya, dan sangat percaya. Pasti ada hikmah dan makna dari apapun yang telah terjadi pada tahun ini, baik yang sudah terlaksana sampai yang gagal terlaksana. Tinggal bagaimana aku menyikapinya, akankah kecewa atau menerima. Karena lagi-lagi aku yakin, rencana-rencana yang menurutku sangat baik belum tentu itu memang yang terbaik, mungkin saat itu aku belum siap, mungkin juga waktunya belum tepat, mungkin bisa juga lingkungannya yang belum tepat atau mungkin memang belum saatnya. Pasti Allah telah menyiapkan yang lebih baik dan akan menggantikan semua rencana yang belum terlaksana, nanti, saat aku memang sudah siap, di waktu dan kesempatan yang tepat. Aku percaya. Sangat percaya. Allah itu sesuai dengan prasangka hambaNya bukan?

Kuncinya adalah Ikhlas.

Apapun yang terjadi, jika ikhlas, semua pasti teratasi, karena memang ikhlas merupakan kunci dari semua masalah. Jika memang kita ikhlas semata-mata karena Allah, maka kita juga akan percaya bahwa apapun hasil yang didapat itu merupakan kehendakNya.

Jadi, apa lagi yang harus kuragukan? apa lagi yang harus kukecewakan? karena bukankah itu yang aku mau? memohon RidhoNya dalam segala tindakanku, dan saat suatu hal yang aku mau belum terlaksana, itu pasti Allah belum meridhoi, lalu kenapa kecewa berkepanjangan? kenapa juga sedih berkepanjangan?

Jawabannya adalah karena hati manusia itu sangat rapuh. Hati manusia itu seperti bulu ayam yang digantung pada tali dan tertiup angin, Terbayang? Iya, Hati manusia semudah itu terpengaruh oleh berbagai macam hal. Termasuk saat kita belum dapat menerima suatu hal yang memang belum untuk kita, Jika itu terjadi, maka hal pertama kali yang harus kita lihat adalah, hati. Pangkal masalahnya adalah pasti terletak pada hati yang sedang tidak pada posisi aman dan sedang terganggu oleh banyak hal duniawi. 

Semudah itu sebuah hati dapat menentukan perbuatan yang akan kita lakukan, Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka seluruh tubuhnya baik; dan jika buruk maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpul daging itu adalah hati.” (Muttafaqun ‘alaihi). 

Itu mengapa, hati harus selalu sangat dijaga. Karena manusia bukan seperti malaikat yang tanpa nafsu. Manusia mempunyai nafsu yang dapat mempengaruhi akal dan hati. Manusia juga bukan malaikat yang selalu istiqomah untuk melakukan kebaikan, ada saatnya manusia futur dan lemah. Namun kekurangan-kekurangan ini akan menjadi kelebihan bagi seseorang yang dapat mengatasinya. Perjuangan seseorang dalam menata hati hanya untuk selalu melibatkan Allah dalam segala tindakannya merupakan sebuah proses untuk lebih dekat kepadaNya. Agar memang nanti, saat kita futur, yang kita cari tiada lain adalah Allah untuk mengembalikan semangat kita.

Dan apakah aku sudah ikhlas?
"Bukanlah sebuah kesabaran jika masih ada batas dan bukanlah keikhlasan jika masih merasakan sakit" 

Hanya Allah yang dapat mebolak-balikan hati manusia.

Ikhlas merupakan suatu hal yang sangat sulit dan berat untuk diwujudkan di dalam hati, kecuali orang yang memang dimudahkan Allah. Ikhlas akan terwujud jika memang niat dari awal kita melakukan hal tersebut adalah murni hanya untuk Allah. Namun, Imam Sufyan Ats Tsauri berkata,”Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat daripada mengobati niatku, sebab ia senantiasa berbolak-balik pada diriku.” (Sumber: https://almanhaj.or.id/2977-pengertian-ikhlas.html)


يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

Ya Rabb, yang maha membolak-balikan hati, Teguhkanlah hatiku pada agamaMu.

Jika sudah menyangkut hati, tidak ada yang bisa membantu dan menyelasaikan selain diri sendiri dengan penciptanya. Karena untuk masalah keikhlasan dan hati, hanya diri sendiri yang bisa mengontrol dan tentu dengan campur tangan Allah yang sangat besar di dalamnya.

”Ya, karena sesungguhnya seluruh hati manusia di antara dua jari tangan Allah, dan Allah membolak-balikan hati sekehendakNya." [HR Ahmad, VI/302; Hakim, I/525; Tirmidzi, no. 3522, lihat Shahih At Tirmidzi, III/171 no. 2792; Shahih Jami’ush Shagir, no.7987 dan Zhilalul Jannah Fi Takhrijis Sunnah, no. 225 dari sahabat Anas].

Tugas utama yang paling penting sekarang adalah mencuri perhatian yang punya hati. 

Dan sekarang, tugas ku, kita, dan semua, yang paling besar adalah mencuri perhatian yang punya hati. Karena bagaimana bisa kita mengharuskan diri untuk ikhlas saat kita jauh dari Yang punya hati? Tidak perlu menunggu menjadi baik untuk ikhlas, karena untuk mencapai kesempurnaan hati, bukanlah hal yang instan dan dibutuhkan proses dan pembelajaran yang tak kenal henti sampai sudah saatnya nanti kita mempertanggungjawabkan apa saja yang sudah kita lakukan di dunia.

Setidaknya, proses menyempurnakan hati telah menjadi ladang amal bagi kita semua. Itu mengapa kita harus berusaha semaksimal mungkin sampai nanti waktu sendiri yang memberhentikan kita untuk berupaya menyempurnakan hati, untuk berupaya meletakkan Allah di atas segala-galanya.

Poin-poin di atas merupakan beberapa hal yang aku dapatkan di tahun 2016 ini. Intinya :
Saat ujian dan masalah menyapa, bersyukurlah. Karena ujian dan masalah merupakan cara Allah untuk menguatkan hamba-Nya. Karena ujian itu sangat ampuh menjadikan kita sabar, ikhlas dan semakin menguatkan pijakan kita di bumi-Nya. Karena ujian dan masalah merupakan media untuk lebih dekat kepada-Nya, Yang Maha Membolak-balikan Hati.
Banyaaaaaaaak sekali poin-poin pelajaran hidup yang aku dapatkan di tahun 2016 ini. Tahun yang penuh makna. Tahun yang penuh dengan pelajaran. Tahun yang membuatku belajar menjadi lebih dewasa. Tahun yang membuatku berfikir lebih luas dan lebih maju. Tahun yang..... ah, mungkin ini titik balik ku untuk menjadi Febri yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. 
"Mistakes are the stepping stones to learn"
Karena untuk masa lalu, adalah selayaknya jalan yang kalau kita tidak melaluinya, barangkali tidak ada kita yang sekarang.

Sudah siap untuk menghadapi hari esok, Feb?

sumber : google

Comments

Popular posts from this blog

Home is where your story begin

29 Days with SEA-Teacher Project : Teaching Practice and Evaluation Day

The Choice is Ours: Pelajaran dari Sarahza