Allah Sayang Kamu, Din.

"Febri.."
.
"Aku cuti, Feb."

Percakapan yang masih aku ingat sampai hari ini, dan masih terngiang, Din. Percakapan terakhir sama kamu, sebelum kamu kembali kritis saat itu. Allah masih memberikan aku kesempatan buat ketemu dan bicara sama kamu, Din :).

Jika melihat ke belakang, 5/6 tahun yang lalu mungkin tepatnya, aku dipertemukan oleh sosok yang sangat ceria dan sangat religius dibanding teman-teman yang lain waktu itu, kami dipertemukan di tempat yang amat indah dengan orang-orang yang sangat luar biasa di dalamnya menurutku. Rohis One. Tidak hanya sampai di situ, tapi kami juga dipersatukan dalam sebuah keluarga kecil, ReflectOne. Lebih lagi, kami teman satu perjuangan menuju cita-cita, belajar besama, les bersama, konsul bersama. Sampai mungkin kami saling terbuka satu sama lain, cerita dari a-z, masalah kecil sampai besar. 

Hampir 3 tahun aku bersama sosok ini waktu itu, dia yang tahu segala cerita ku, aku juga yang tahu unek-uneknya, Sampai akhirnya kami dipisahkan oleh jarak, karena kami harus mengejar mimpi masing-masing.

Kamu mendapatkan mimpimu setelah proses sekian lama, Din. FKG UI 2014 jalur undangan bersama teman alay budokgi ku yang satu lagi juga, Jannah. hehe, aku masih ingat kalian waktu itu, aku bingung harus bersikap seperti apa, karena kalian saling cerita ke aku, aku pun masih inget persis tempat ceritanya, di GOR, waktu lagi ambil nilai bulu tangkis.. tangisan kalian di awal terbayar dua dokter gigi, ku :)

Lalu, kami mulai belajar di tempat masing-masing dan kami LDR-an. LDR yang sangat indah menurutku, karena di dalamnya terdapat doa-doa yang tetap menghubungkan kami, awal-awal rasanya sering galau karena belum nemu teman-teman seperti kalian, khusunya kamu, Din. Terimakasih pada line yang membuat kami tetap berkomunikasi walau dibatasi oleh jarak, sampai suatu hari kamu bilang
"Bukankah justru yang sekarang ini lebih indah? Hati hati kita tetap terpaut meski jarak dan waktu memisahkan. Hati hati kita tetap saling mendoakan dan mendukung satu sama lain. Seperti doa rabithah yang terjemahannya sungguh nyata, Dia selalu mempersatukan hati kita di jalan-Nya, di bawah naungan-Nya. Sungguh, 3 tahun berlalu tidak terasa begitu cepat. Ada kalanya ku inginkan kalian lagi untuk menjadi tempat berbagi cerita dan berdiskusi. Namun benar, ini memang bukan perpisahan. Suatu saat nanti kita akan bersama kembali, untuk berusaha menepati janji tanda tangan di kertas itu. :')"
Kamu sukses membuat aku berkaca hari itu, Din. Terima kasih atas kata-kata yang indah itu, sehingga dapat menyembuhkan rindu.

Berbulan-bulan berlalu, setiap liburan kami memang main, tapi jauh. Mungkin itu yang membuat kamu jarang terlibat ya, Din. Maafkan kami yang egois waktu itu. Tapi entah kenapa, liburan tahun lalu, kami memang main. Tapi tidak seperti biasanya, kami hanya main di salah satu taman di Tangerang, dari yang biasanya main jauh, tapi hari itu hanya main di taman. Sedih. Tapi ternyata, itu menjadi liburan yang menyenangkan karena kamu bisa datang, Din. Akhirnya, bisa liburan sama kamu :)

Ramadhan ramadhan berikutnya setelah pasca sekolah pun, kami masih menyempatkan untuk selalu ada agenda silaturahmi dengan buka bersama. Dan untuk Ramadhan tahun lalu, aku tidak hanya diberikan waktu buka bersama sama kamu, Din, tapi sahur juga bersama. Indah sekali malam itu, yang In Syaa Allah, malam itu malam 25 Ramadhan, aku sama kamu, entah ada angin apa, kami bisa dengan mudahnya berangkat i'tikaf di Masjid Ukhuwah Islamiyah, UI. Benar-benar quality time, Din. 

Hari itu, seperti biasanya kita bertemu pasti ada aja yang dibicarakan dari a-z. Hei, aku masih ingat semua ceritamu, Din. semua. Waktu itu, aku diajak mampir ke kosmu yang penuuh dengan foto, foto kita, reflectone, betapa aku tidak terharunya saat masuk kamarmu.

Kamu cerita banyak hal, sampai kamu cerita ada teman SD mu yang sudah dipanggil oleh Allah, kamu bilang "Allah sebelum manggil temenku, udah nyuci dosa dia semua, Feb, Sakit lama. pas bulan Ramadhan lagi, khusnul khatimah, In Syaa Allah" Sepenggal kata yang aku ingat dari mu, aku tidak berpikir apa-apa selain "Iya, din, In Syaa Allah"

Saat malam habis shalat tarawih dan ingin beli makan, kamu mengeluh sakit, aku ingat, kakimu tidak bisa digerakkan sehingga akhirnya aku menyuruhmu untuk istirahat dan aku pergi sendiri untuk membeli makan untuk mu dan aku. Tapi aku tidak berpikiran apa-apa selain, "mungkin kamu cape."

Ya, sehari yang penuh dengan cerita dan kenangan sampai akhirnya kita pulang ke rumah masing-masing dan tanpa ada agenda lain yang dapat mempertemukan kita lagi, Din. Eh, pernah, sekali saat aku dan nabila menemani adek-adek yang 'gagal' main. Tapi, hanya sebentar, bertemu di selasar MUI dan melihat mu begitu capek dengan segala kegiatanmu, Din. Maafkan aku yang tidak menegurmu untuk tidak terlalu capek, karena aku tau kamu kuat, Din.

Sampai akhirnya, September kemarin aku sempat dapat kabar kamu masuk RS, tapi kamu masih riang saat itu, masih membalas wa ku dan kamu dapat kembali lagi beraktivitas seperti biasa. Aku lega, sangat lega, katamu waktu itu "salah makan, Feb" ya, pikirku, memang kamu cuma salah makan, Din.

Kemudian, lagi. Aku mendapatkan kabar, kamu sudah di rumah sakit mungkin sekitar awal Januari. Waktu itu posisiku belum libur dan menuju ujian akhir, Din. Lagi-lagi cuma doa yang bisa aku kirimkan untuk kamu. Maaf Din. Waktu itu aku di Line Call Nabila, tentang kondisi terkini mu. aku sedih karena aku tidak bisa melakukan apa-apa untukmu, Din. Aku tidak tahu lagi apa yang bisa aku lakukan selain doa agar Allah memberikan yang terbaik untukmu, agar kamu tidak dipasangi alat-alat lagi, agar kamu bebas dari ruangan berkaca itu, Din.

Akhirnya, waktu yang ku tunggu untuk pulang datang juga, Pulang dan bertemu dengan mu, Din. Sempat senang dan penuh harap saat melihat mu lepas dari alat-alat itu. Malam itu, aku bisa berbincang sedikit dan melihatmu berjuang dengan penuh semangat, Din. Aku melihat itu...

Tapi, beberapa hari setelah itu, saat aku mau kembali lagi ke Solo dan berniat untuk kembali bertemu denganmu, ternyata kamu drop lagi :')))). Din, aku mau balik Solo, Aku mau pamit sama kamu dulu, Din.... tapi, ternyata Allah berkata lain, aku kembalii ke Solo tanpa bertemu lagi dengan kamu, kamu kembali masuk ke ruangan berkaca, Din. Dan lagi, posisi ku sudah di Solo.

Selasa, 31 Januari 2017.

Saat itu aku baru saja selesai shalat maghrib, tiba-tiba ada yang mengingatkanku denganmu. Saat aku ingin menanyakan keadaanmu, eh sudah ada Taufan yang bertanya, aku keduluan Din, sama Taufan... hihi, pasti kamu ketawa kalau kamu tau ini..

20.46 WIB

Jannah telpon...

Tanganku tiba-tiba dingin, tapi mati.

20.51 WIB

Jannah telpon lagi, dengan sinyal yang putus-putus dan akhirnya aku bisa mendengar suaranya dengan jelas.

"Feb, Andini....."

Seketika tangisku pecah, Din. Aku kira itu hanya mimpi. Tapi ternyata itu benar.

Allah telah melepas segala alat-alat yang menempel pada tubuhmu, Din. Allah telah membuat kamu akhirnya keluar dari ruangan berkaca, Allah sayang kamu Din, seperti temanmu yang pernah kamu ceritakan kepada ku, Allah mencuci dosa-dosamu sebelum kamu bertemu dengan Nya, Allah tidak membiarkanmu menahan sakit terlalu lama, Din. 

He really loves you. Greater than I have.

Terimakasih atas segalanya, temanku, sahabatku, saudaraku, keluargaku. Andini Nafisani.

Allah telah mendatangkan kamu di hidupku untuk menemani ku berhijrah, untuk menemani ku berproses, dari yang tadinya pake jeans kemana-mana, sampai udah ngga berani lagi pake celana kalau pergi keluar. Sekecil itu, Din.

Banyak yang sayang kamu, karena sikapmu. Entah kapan giliranku, tapi semoga, aku bisa sepertimu, Din, menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sekitar.

Karena sejatinya semua yang ada di bumi ini adalah milikNya, dan kamu sudah aman berada bersama pemilikmu, Din.

Semoga kita dipertemukan kembali, di surgaNya nanti.

sekali lagi, 

Terimakasih telah mengisi hari-hari ku, Andini Nafisani.





Comments

Popular posts from this blog

Home is where your story begin

29 Days with SEA-Teacher Project : Teaching Practice and Evaluation Day

Siap Memutar Kemudi Hatimu?