Wamaa 'Indallaahi Khair

Pengharapan terhadap manusia memang tidak bisa dibenarkan. Allah sudah memerintahkan kita sebagai hambaNya untuk tidak berharap kepada siapapun melainkan kepada Dia. Tapi apalah daya, manusia adalah tempatnya khilaf. Saat ruhiyah tidak dijaga dan dibentengi dengan baik, dia akan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan, termasuk berharap kepada manusia.

Terngiang suatu kultum saat shalat tarawih, ada 3 ujian yang diberikan Allah kepada hambanya, yaitu waktu senang, waktu susah dan manusia yang satu merupakan ujian bagi manusia lainnya. Anak merupakan ujian bagi orang tuanya, mahasiswa merupakan ujian bagi dosen, dosen merupakan ujian bagi mahasiswa, teman merupakan ujian bagi teman lainnya dan sngat banyak contoh lainnya yang tidak mungkin ku tuliskan semua di sini. Itulah mengapa Allah menciptakan manusia dengan berbagai macam karakter agar kita bisa melatih mengelola hati untuk menghadapi berbagai macam karakter manusia. Jika kita berhasil lulus dari ujian ini, maka itu akan menjadi pencapaian yang sangat luar biasa.

Namun, bagaimana jika susah sekali dalam mengelola hati? Selalu saja ada rasa kekecewaan yang amat dalam saat melewati hal yang mungkin di luar kontrol diri, saat yang sudah direncanakan dengan begitu matang tidak terjadi, saat realita tidak sesuai ekspektasi, saat dikecewakan orang lain (padahal jika tidak berharap pasti tidak akan kecewa), saat.... masih banyak saat-saat lainnya.

Apakah kita harus menyalahkan orang lain? Ternyata jawabannya ku temukan dari hasil muhasabah diri yang tidak sengaja ku dengar dari ceramah Aa Gym yang bertemakan cara mengelola rasa sakit hati. Allah selalu mendatangkan jawaban saat ku sedang dalam keadaan goyah, salah satunya adalah dengan memunculkan channel tersebut di page home-nya YouTube

Ada sebuah teori yang dapat diterapkan berkaitan dengan ujian. Ujian itu harus ada sebagai syarat untuk naik level, namun bukan ujian yang membuat kita gagal melainkan cara kita menghadapi dan mengerjakan ujian tersebut. Begitu juga dengan ujian dari Allah, jika kita bisa melewatinya dengan baik, maka Allah telah meyiapkan skenario terbaikNya dibalik setiap ujian yang telah diberikan.

Lalu, apa yang menyebabkan rasa sakit hati, sesak, bt dan rasa tidak menentu lainnya saat kita menghadapi ujian? Apakah ini murni karena salah pihak lain yang membuat kita merasa dunia serba ingin hancur? Yep, saat seperti ini memang benar-benar ujian yang sangat menyebalkan, tiba-tiba bt, uring-uringan dan membawa dampak negatif lainnya terhadap tingkat produktivitas diri. Ternyata jika kita melihat lebih jauh, hal-hal negatif tersebut tidak lain disebabkan oleh dosa kita sendiri. Dosa yang telah kita lakukan selama ini, terakumulasi dalam satu waktu dan keluar menjadi aura-aura negatif. Astaghfirullah. Butuh banyak muhasabah diri betapa banyaknya dosa yang telah ku perbuat sehingga seringnya aku merasakan hal-hal yang menyiksa diri sendiri seperti ini. :"

Saat inilah merupakan saat yang tepat, konversi kegelisahan-kegelisahan yang kita rasakan menjadi dzikir-dzikir yang teruntai dengan penuh harap kepadaNya untuk melindungi kita dari segala kemungkinan yang terjadi, agar hati tetap berpegang teguh kepadaNya dan hanya Dia lah satu-satunya tempat seorang hamba berharap.

Terlepas dari pengharapan terhadap manusia, kita harus tetap berbuat baik kepada siapapun. Karena tidaklah Allah membalas suatu kebaikan, melainkan dengan kebaikan itu sendiri. Kabaikan di sisi Allah sangat besar, lebih besar dibandingkan seluruh isi dunia, jika ini sudah tertanam di hati, apalagi yang harus dikecewakan?

Wamaa 'Indallaahi Khair.

Comments

Popular posts from this blog

Home is where your story begin

29 Days with SEA-Teacher Project : Teaching Practice and Evaluation Day

The Choice is Ours: Pelajaran dari Sarahza