Catatan Kecil di Salah Satu Pojok Negeri Tercinta

Gumantar, desa yang terletak di kaki gunung Rinjani, adalah salah satu desa dari delapan desa yang ada di wilayah Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara. Hingga sekarang, desa ini banyak meninggalkan beberapa situs sejarah yang penuh dengan nuansa adat istiadatnya, terutama yang berpusat di Dusun Dasan Beleq.

Desa yang hampir 95% penduduknya hidup dari hasil berkebun ini, mempunyai hasil kebun yang sangat melimpah. Di antara hasil kebunnya yang melimpah adalah pisang, kelapa, kopi, jambu mete dan kakao. Secara sosiokultural, masyarakat adat Dasan Beleq berkaitan erat dengan ajaran Islam. Hal ini bisa dilihat dari situs budaya yang ada, terus hidup dan berkembang sejalan dengan ritme kehidupan masyarakat setempat.

Bukti kearifan lokal yang masih terlihat jelas sampai saat ini di Desa Gumantar adalah adanya kampung adat yang terletak di Dusun Dasan Beleq. Hal ini yang menjadi pusat perhatian Desa, untuk mengembangkan potensi pariwisata dengan adanya Desa yang masih sangat mempertahankan adat ini.




Hal tersebut merupakan sedikit deskripsi dari Desa Gumantar yang alhamdulillah, kemarin saya diberikan kesempatan oleh Allah untuk mengunjungi, belajar banyak dan bahkan tinggal di salah satu Desa yang terdapat di suatu pulau yang merupakan salah satu sumber kearifan lokal Indonesia, Nusa Tenggara Barat.



Saya bersama tim, yang berjumlah 19 orang, bertugas selama kurang lebih 40 hari di Desa Gumantar, khususnya di beberapa Dusun, yaitu Dusun Dasan Beleq, Dusun Tenggorong, Dusun Dasan Tereng dan Dusun Gumantar itu sendiri. Kami membawa beberapa tema, di antaranya Pendidikan, Pariwisata, Pertanian dan Kesehatan (P3K). Kebetulan saya merupakan mahasiswi dari Fakultas yang berhubungan langsung dengan pendidikan, maka teman-teman mengamanahkan saya dan beberapa teman lain untuk mengordinir bagian Pendidikan selama KKN berlangsung. 


Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki kemajemukan dalam berbagai dimensi kehidupan, baik strata sosio-kultur, politik, ekonomi, juga kondisi geografis dan topografi alam menjadi kebanggaan tersendiri bagi penduduknya. Namun, perbedaan yang tidak dapat dikelola dengan baik juga dapat menjadi penghambat dalam menjalankan roda pembangunan bangsa, khususnya pembangunan di dunia pendidikan. 
Pendidikan merupakan salah satu pilar yang dibutuhkan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Berdasarkan data United Nations Development Program (UNDP) pada tahun 2011, Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index), yaitu Indeks yang menunjukkan komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala,  Indonesia berada di urutan 124 dari 187 negara yang disurvei. Padahal peringkat-peringkat sebelumnya, dari 174 negara di dunia yang disurvei, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999). Bisa kita bandingkan dengan peringkat yang dicapai pada tahun 2011, Indonesia mengalami penurunan drastis dalam Indeks Pembangunan Manusianya. Hal in berarti, kualitas pendidikan juga mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia tersebut. Yang dapat disimpulkan bahwa, kualitas pendidikan Indonesia yang masih rendah sangat mempengaruhi kualitas dari sumber daya manusia negara ini. 
Pendidikan di Indonesia belum merata, inilah yang menjadi salah satu penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Kesenjangan kualitas pendidikan antara di kota dengan di daerah terpencil masih tinggi. Masih banyak sekolah-sekolah di daerah terpencil yang belum mendapat  perhatian khusus dari pemerintah Indonesia. Hal ini sudah saya rasakan sendiri dengan terjun langsung di sekolah-sekolah yang ada di Desa Gumantar ini. 
Dari sisi sekolahnya, sangat berbeda sekali dengan sekolah-sekolah di daerah kota yang biasa kita lihat di daerah perkotaan. Sekolah yang bersih dan nyaman akan membuat siswa betah saat belajar di sekolah, kemudian fasilitas yang lengkap juga merupakan faktor yang akan mendukung keberhasilan suatu proses pendidikan. Namun, fakta yang ditemukan di lapangan berkata lain, beberapa sekolah yang kemarin sempat menjadi tempat kami mengabdi , keadaannya jauh dari kata nyaman. Keadaan kelas yang tanpa lampu, pengap, pintu yang rusak membuat siswa selalu ingin lebih cepat pulang walaupun jam pelajaran belum usai.

Faktor lain yang menjadi penghambat majunya pendidikan di Indonesia adalah kesadaran akan pentingnya belajar yang sangat kurang. Kesadaran akan pentingnya pendidikan di Desa Gumantar, dilihat dari pengamatan dan wawancara secara tidak langsung, bisa dibilang masih sangat rendah. Fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa masih ada siswa kelas 6 SD yang belum lancar dalam membaca. Hal ini dipengaruhi oleh banyak hal, yang paling mempengaruhi adalah motivasi dari orang tua dan guru itu sendiri. Menurut salah satu guru di salah satu SD di Desa Gumantar, banyak orang tua yang tidak mementingkan pendidikan anaknya, mereka lebih memikirkan bagaimana kelangsungan ekonomi keluarga. Karena mata pencaharian mayoritas penduduk Gumantar adalah berkebun, tak jarang anak-anak diminta ikut berkebun dan menggembala ternak oleh orang tuanya. Sempat juga ada rekan yang bertanya kepada salah satu anak yang tidak melanjutkan sekolah, anak itu menjawab tidak melanjutkan sekolah karena alasan ekonomi yang tidak memungkinkan.


Salah satu faktor yang juga mempengaruhi proses pembelajaran yang tidak efektif sehingga tingkat pendidikan menjadi sangat rendah di daerah terpencil yaitu, insentif rendah, kualifikasi dibawah standar, serta guru-guru yang kurang kompeten yang membuat motivasi guru untuk mengajar pun rendah. Sesuai dengan yang terjadi di beberapa sekolah di Desa Gumantar ini. Menurut hasil survei kecil-kecilan, tenaga guru ahli yang minim sangat mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar. Dari cerita yang tim dapatkan , banyak guru yang ditugaskan tidak sesuai dengan kompetensinya sehingga tak jarang menghambat proses pembelajaran di kelas  Tak jarang juga, kehadiran guru di sekolah hanya memenuhi absen bahkan ada kelas yang gurunya jarang sekali datang untuk mengajar di kelas. Bahkan, sempat waktu itu saya dan tim ingin masuk ke suatu sekolah karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan sekitar jam 10 siang, namun apa yang terjadi? Sekolah sudah dibubarkan dan saat kami bertanya kepada siswa yang sudah pulang mengapa jam segini sudah pulang. Jawabannya sangat memilukan sekali, katanya tidak ada guru, guru yang datang sedikit, jadi kami dipulangkan. Patah hatiku ya Allah :(. Kesadaran guru yang minim akan arti dari kata 'mendidik' itu sendiri menjadi hal yang paling mempengaruhi dalam hal tersebut.

Melihat hal seperti ini langsung di depan mata, membuatku semakin bersyukur, karena dari kecil Allah telah menempatkanku di tempat yang penuh dengan motivasi. Namun, memang kita tidak bisa memilih tumbuh di tempat seperti apa, tapi kita bisa menentukan akan tumbuh menjadi apa. Setidaknya, semangat adik-adik untuk pergi ke sekolah dan belajar di keadaan yang serba terbatas tersebut menjadi suatu cahaya harapan yang mungkin dapat menjadi jalan sehingga kelak menjadi generasi emas penerus bangsa.

Tugas kita juga, terlebih bagi para pelajar yang memiliki kesempatan mengenyam dunia pendidikan yang lebih baik, untuk terjun dan kembali membantu pemerintah untuk memajukan segala sektor yang bisa dikembangkan di Negeri tercinta ini, salah satunya adalah Pendidikan itu sendiri. Bahu membahu membenahi, jika telah diridhai, maka kita tinggal menunggu waktu, Indonesia akan menjadi bangsa yang sangat mandiri. 











sumber :
http://www.beritasatu.com/pendidikan/144143-kualitas-pendidikan-di-indonesia-masih-rendah.html/
http://www.koinuntuknegeri.org/2017/02/kondisi-pendidikan-di-daerah-terpencil.html



Comments

Popular posts from this blog

Home is where your story begin

29 Days with SEA-Teacher Project : Teaching Practice and Evaluation Day

Siap Memutar Kemudi Hatimu?