Kamera


Seperti kamera yang lensanya sangat piawai mengabadikan kejadian demi kejadian yang terjadi.
Aku merasa seperti kamera yang sedang mencoba untuk mengabadikan cerita 2 insan yang sedang memendam rasa.
Sekeras apapun lensa kamera itu berusaha untuk tidak mengabadikannya, tapi mau bagaimanapun berusaha, tugas lensa memang seperti itu, selalu ada celah untuk mengabadikan setiap rasa.
Mengabadikan kejadian demi kejadian, menyambung untaian benang merah menjadi suatu garis cerita, menyusun spekulasi-spekulasi menjadi alur cerita yang nyata. Memastikan garis cerita yang membawa ku tak sengaja melewati garisnya telah kembali menjadi garis lurus yang aku tak akan lagi menyinggungnya.

Ternyata tanpa dirasa, kamera itu sudah berusaha terlalu jauh untuk mengabadikan, sampai kamera itu lupa bahwa ia pun mempunyai kapasitas maksimum dalam mengabadikan. Terimakasih kepada yang telah menyempurnakan kamera dengan fitur hapus gambar di dalamnya.

Sungguh, aku hanya ingin menjadi kamera saja saat ini. Terus mengabadikan, tanpa takut kehilangan. Terus menyaksikan, tanpa takut melepaskan.

Ternyata saat ku bangun dari tidur lelapku, ku bukanlah hanya kamera yang bisa mengabadikan jika dioperasikan oleh operatornya. Tapi aku adalah manusia yang telah dianugerahkan segala kelebihan oleh penciptanya. Aku adalah manusia yang diberikan begitu banyak nikmat oleh penciptanya. Aku adalah manusia yang diberi fitrah untuk mencintai sekitarnya. Aku adalah manusia yang bisa mengabadikan kejadian demi kejadian lebih dari yang kamera lakukan. Aku adalah manusia yang dianugerahi akal dan nafsu yang jika dapat mengaturnya dengan baik maka aku akan menjadi sebaik-baiknya manusia. Dan aku adalah manusia yang sedang menjalankan segala skenario dari Sang Sutradara. Begitupun jalanku saat ini, bersinggungan dengan garis 2 insan yang sedang memendam rasa menjadi suatu skenario yang memang sudah ditetapkan. Skenario yang pasti akan dapat dilewati oleh pemeran di dalamnya. Skenario yang harus dijalani hingga akan mengantarkan pemeran pada cerita akhirnya.

Maka, untuk apa melupakan dengan menghapus tanpa jejak seperti kamera? Padahal saat menjadi manusia, kita dapat melupakan hanya dengan memaafkan. Memaafkan diri sendiri karena telah mendzalimi diri sendiri tentunya?

Comments

Popular posts from this blog

Home is where your story begin

29 Days with SEA-Teacher Project : Teaching Practice and Evaluation Day

The Choice is Ours: Pelajaran dari Sarahza